Rachmat Irianto beberapa kali ke pinggir lapangan mendengarkan instruksi dari pelatih Persebaya Aji Santoso tadi malam. Wajahnya mengangguk-angguk ketika pelatih asal Malang itu memberikan instruksi. Di akhir instruksi, Aji selalu mengelus kepala Rian –sapaannya– untuk memberikan semangat.

Ya, Rian tadi malam menjadi salah satu kunci kemenangan Persebaya atas tuan rumah Persija dengan skor 2-1. Rian ikut andil atas kesuksesan Green Force –julukan Persebaya– mengakhiri memori buruk di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

Anak legenda Persebaya Bejo Sugiantoro itu memang tak ikut menjadi kreator lahirnya dua gol Persebaya. Yakni, melalui Osvaldo Haay pada menit ke-8 dan Diogo Campos (23’). Juga tidak menjadi penyebab pelanggaran handsball yang membuat Marko Simic menambah pundi-pundi golnya di daftar pencetak gol terbanyak Liga 1 pada menit ke-29.

Tapi, Rian punya kontribusi besar atas solidnya lini pertahanan Persebaya. Dia tadi malam diplot di posisi bek kiri untuk menggantikan Ruben Sanadi.

Keberadaan Rian membuat winger Persija sulit melepaskan umpan-umpan matang. Bahkan, Riko Simanjuntak yang biasanya begitu leluasa di sisi sayap tak bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Heri Susanto yang masuk menggantikan Riko juga tak mampu berbuat banyak. Persija tetap tak bisa menembus pertahanan Green Force melalui sayap.

Aji mengatakan bahwa awalnya formasi Persebaya tidak seperti yang ditampilkan tadi malam. Rian sebenarnya ditaruh di gelandang jangkar untuk menemani Aryn Williams.

’’Ruben (Sanadi) yang di bek kiri. Tapi, kondisinya tidak memungkinkan karena diare. Dia juga tidak bisa tidur semalaman,’’ kata Aji. ’’Saya sempat berpikir keras siapa yang jadi penggantinya,’’ ujarnya.

Sebenarnya ada pemain muda Koko Ari yang posisinya sama dengan Ruben. Tapi, Aji melihat Koko belum punya pengalaman menghadapi laga besar melawan Persija di partai tandang. ’’Akhirnya saya pilih Rian main di situ. Alhamdulillah, Rian bisa menjawabnya dengan baik,’’ ungkapnya.

Perihal tugas khusus ’’menghentikan’’ Riko, Aji tidak menampiknya. Pelatih 49 tahun itu memang memberikan pesan khusus untuk Rian dan Abu Rizal. Yakni, menghentikan pergerakan Riko. ’’Bek tengah saya minta jaga Marko Simic. Kalau bisa hentikan dua pemain ini, insya Allah bisa dapat poin. Ternyata kami bisa menang,’’ terangnya.

Kepercayaan Aji kepada Rian bisa dikatakan sebuah perjudian. Pemain 20 tahun itu baru bergabung bersama tim beberapa hari saja. Dia baru kembali dari membela timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2019 bersama Osvaldo Haay.

Mantan pelatih Persela Lamongan tersebut membenarkan soal perjudian itu. Dia awalnya sedikit ragu memindahkan Rian dari tengah ke sayap. Apalagi, Ruben sempat memaksa main walau kondisinya tidak fit.

’’Tapi, saya berpikir lagi, tidak bagus dan merugikan tim kalau Ruben diganti saat pertandingan,’’ tuturnya. ’’Slot pergantian pemain akan berkurang. Akhirnya saya pilih Rian. Kebetulan posisi Riko di situ juga. Jadi, cukup efektif,’’ katanya.

Rian sempat terkejut ketika langsung dimainkan melawan Persija. Padahal, dia baru bergabung dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan tim terlebih dahulu.

’’Meeting awal Kakak Ruben main, tiba-tiba tadi pagi saya diminta jadi bek kiri. Saya siap saja apa yang diminta oleh coach,’’ ungkap Rian.

Jebolan klub internal Indonesia Muda itu bersyukur bisa mendapat poin penuh di kandang Persija. Poin yang membuat Persebaya terus menjaga asa untuk tampil di kancah Asia. Kini, Persebaya berada di peringkat ketiga klasemen sementara. ’’Semoga ke depan saya dan tim bisa konsisten dan lebih baik,’’ harapnya.

Sementara itu, pelatih Persija Edson Tavares kecewa dengan hasil pertandingan tadi malam. Bukan hanya kehilangan poin di kandang. Kekalahan juga terasa sangat menyakitkan karena ini merupakan laga kandang terakhir bagi Bambang Pamungkas.

’’Kami tidak bisa memberikan kemenangan untuknya. Kami tidak memainkan sepak bola yang baik sepanjang pertandingan,’’ keluh Tavares. (jpc/riz)