RADAR JOGJA – PSS Sleman menghabiskan anggaran sekitar Rp 35 miliar untuk mengarungi kompetisi Liga 1 musim ini. Jumlah tersebut tentunya meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan saat masih berkompetisi di Liga 2 lalu.

Jumlah tersebut lebih banyak digunakan untuk operasional tim. Sebab sebagai tim Liga 1, PSS tidak hanya fokus ke tim utama saja. Namun juga pembinaan di tim junior yang turun di kompetisi Elite Pro Academy dan tim Liga 1 putri.

CEO PT PSS Fatih Chabanto menyebutkan, untuk tim debutan apalagi dengan minim bintang rata-rata pengeluaran tim berada di angka 30 miliar. Sementara untuk dapat bersaing di papan tengah, perlu belanja pemain dan anggaran antara 30 hingga 50 miliar.

Sementara untuk bisa bersaing di papan atas setidaknya perlu anggaran di atas Rp 50 miliar.

“PSS belum surplus. Tapi bagaimana menyiasati potensi pendapatan yang bisa diambil di muka. Mencari potensi pendapatan yang dapat dimajukan,” kata CEO PT PSS Fatih Chabanto.

Hal itulah yang menjadikan tim berani untuk menawarkan perpanjangan kontrak untuk beberapa pemain yang direkomendasikan pelatih. Seliain itu, jika nantinya turnamen Piala Presiden kembali diputar Februari tahun depan, maka klub juga harus menyiapkan skuad sejak awal Januari.

“Kami berusaha menjaga dinamika agar tetap kondusif. Sponsor juga ingin melihat PSS stabil. Ada kepastian pemain yang dikontrak, pertandingan dan penonton di setiap pertandingan,” ujar Fatih.

Pihaknya menyebutkan, di awal 2020, akan ada sponsor yang akan merapat ke PSS. Menurutnya logo sponsor tersebutakan terpampang di jersey PSS Musim depan. (riz)