Berbagai pelatih dan pemain silih berganti di tubuh PSIM Jogja. Meski begitu, ada satu nama yang seolah tak tergantikan di skuad Laskar Mataram. Dialah Mateus ‘Katrok’ Kristianto.

BAHANA, Jogja, Radar Jogja

Pekerjaan kitman memang tak sementereng pelatih atau pemain. Namun keberadaannya sangat penting di tubuh suatu klub. Tanpa adanya seorang kitman, klub pasti akan kerepotan mempersiapkan kelengkapan pemain, baik saat bertanding maupun berlatih.

Di lapangan, peran Mateus seolah melebihi dari seorang kitman yang mempersiapkan perlengkapan pemain. Tak jarang dia berteriak memberi motivasi dari pinggir lapangan layaknya seorang pelatih.

Tak hanya itu, di saat kondisi rusuh pun pria kelahiran Jogja 28 tahun silam ini kerap berani terlibat menenangkan suporter PSIM Jogja. Tak heran nama Katrok pun memiliki tempat tersendiri di hati para suporter.

“Saya bertindak seperti itu refleks saja. Karena sudah punya ikatan mendalam dengan pemain, klub, dan suporter,” katanya kepada Radar Jogja, Jumat (20/9).

Kiprah Mateus sebagai kitman PSIM Jogja dimulai sejak 2007 silam. Ketika itu, dia masih berusia sangat muda, 16 tahun, dan sekolah di SMP Kanisius Gayam.
Awalnya, Mateus mengidolakan kapten PSIM asal Chili, Jaime Sandoval. Dia kerap menunggu Jaime di kawasan Jalan Baciro untuk melihat sang idola berlatih bersama skuad di Stadion Mandala Krida.

“Akhirnya dia (Jaime, Red) mengajak saya ke Mandala Krida,” kenangnya. Nah, kehadiran Mateus di Mandala Krida secara rutin ini ternyata diendus Nugroho Swasto yang ketika itu menjabat manajer PSIM Jogja.

Ritual sebelum memulai pertandingan, mencium panji PSIM.

Mateus kemudian dipercaya untuk membantu mempersiapkan kelengkapan pemain ketika akan latihan. Mulai dari pakaian latihan, peralatan latihan seperti bola dan cone. “Akhirnya klub secara resmi mempercayai saya,” ujarnya bangga.

Tidak hanya itu, dia pun diangkat menjadi anak oleh Nugroho. Dengan begitu, persoalan biaya pendidikan yang selama ini dihadapi teratasi dengan kehadiran bapak angkat. “Saya dibiaya dari SMA hingga kuliah oleh Pak Nugroho,” kata alumnus IST Akprind Jogja ini.

Dalam perjalananya, dinamika pergantian pelatih dan manajer di tubuh tim tak menggoyahkan karirnya sebagai seorang kitman sejati. Mulai PSIM dilatih Sofyan Hadi, Bambang KW, Maman Durachman, Seto Nurdiyantoro, Erwan Hendarwanto, Vladimir Vujovic, dan terakhir saat ini Aji Santoso pernah dirasakan.

Bahkan saat PSIM diakuisisi oleh investor baru pun, nama Mateus tetap dipertahankan. Meskipun saat ini dia memiliki kesibukan sebagai pegawai di Dinas Kesatuan Bangsa (Kesbang) Kota Jogja.

Anton, panggilan dari Cristian Gonzales, juga sigap menenangkan suporter ketika marah.

Menjadi seorang kitman bukan perkara sepele. Segala kelengkapan detail tim harus sudah disiapkan. Saat bertanding, jersey tim, rompi, bola, papan taktik pelatih dan berbagai kelengkapan lain, tidak boleh luput.

“Kalau ada yang ketinggalan, terima konsekuensi disemprot,” katanya seraya tersenyum. Beruntung tempat dia berdinas pun memahami kesibukannya di luar pemkot. Sehingga dia mendapatkan keleluasaan, mempersiapkan kebutuhan tim saat berlatih maupun bertanding. “Memang harus bisa membagi waktu,” katanya.

Dia pun bertekad ingin menjadi salah satu legenda di PSIM Jogja. Meskipun itu hanya sebatas kitman. Sama seperti nama-nama pendahulu seperti Dalijo dan Suparyono. “Keinginan bisa mengabdi sampai kakek-kakek,” katanya.

Tidak hanya itu, dia pun ingin loyalitas terhadap Laskar Mataram diganjar dengan bayaran sepadan, yang tak bisa dinilai dengan uang. Yakni, melihat PSIM Jogja beprestasi naik kasta ke Liga 1. “Ini mimpi saya. Bila itu terjadi, tentu sebuah penghargaan yang tidak ternilai bagi saya,” ungkapnya. (laz)

Nama : Mateus Kristianto
Panggilan : Katrok
Pendidikan : IST Akprind Jogja
Lahir : Jogja 18 September 1991
Bergabung PSIM : 2007
Jabatan: Kitman PSIM, Pegawai Lepas Kesbang Jogja