Nama FX Harminanto bagi pecinta PSIM Jogja tentu bukan nama yang asing. Dia pernah menjadi penggawa Laskar Mataram- julukan PSIM Jogja belasan tahun silam. Dunianya kini telah berbeda. Tapi kecintaannya terhadap sepak bola tak pernah luntur.

Ana R Dewi, Jogja, Radar Jogja

Setelah resmi menyandang gelar sarjana ilmu komunikasi, FX Harminanto memutuskan gantung sepatu. Saat ini dia memilih berkarya tidak jauh dari dunia sepak bola yang membesarkan namanya. Tapi di luar lapangan. Yakni wartawan.

Ya, menjadi pemain sepak bola adalah cita-cita Harminanto sejak kecil. Separo hidupnya dia dedikasikan untuk si kulit bundar. “Mulai kecil bermain sepak bola plastik,” kenangnya.

Berbagai ajang bergengsi di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) dia ikuti. Tak jarang merengkuh gelar juara. Lalu, Harmin, sapaan akrabnya mulai menempa ilmu yang lebih matang di Sekolah Sepak Bola (SSB) Gama. Pria kelahiran 3 Desember 1988 itu tercatat pernah mengikuti Liga Remaja bersama klub Perseta Tulungagung dan Mojokerto Putra.

Semangat dan terus berlatih, Harmin berhasil mengantarkan Mojokerto Putra yang dia bela menjuarai Piala Soeratin pada 2005 silam. Berkat penampilan gemilangnya bersama klub asal Jawa Timur itu, dia pun dipanggil untuk mengikuti seleksi Timnas U-20.

Selain itu, Harmin juga pernah membela Tim Nasional (Timnas) Indonesia di berbagai kelompok umur. Seperti, kelompok U-17 (2003), U-20 (2005) dan Asian School (2006). Menjadi bagian dari skuad Garuda Muda -julukan Timnas- tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi setiap pesepak bola. Tak terkecuali bapak satu anak ini.

Karir sebagai pesepak bola profesional dimulai sejak 2007. Saat dirinya dikontrak manajemen PSIM Jogja. Harmin membela Laskar Mataram -julukan PSIM- selama enam musim. Suka duka dia alami selama berseragam klub kebanggaan warga Jogja itu.

Di puncak karirnya, Harmin sempat mendapat ujian yang cukup berat lantaran mengalami cedera engkel kaki kiri. Hal itu, mengakibatkan dia harus off untuk fokus penyembuhan. “Sayangnya saat itu klub belum mengenal fisioterapi yang dapat membantu bangkit secara psikis setelah cedera,” keluhnya.

Harmin menuturkan setelah 2008 terjadi era transisi dari APBD ke sepak bola mandiri. Dari kejadian itu, klub tak memiliki dana yang cukup sehingga gaji sering telat alias nunggak.

Efek cedera yang dialami Harmin cukup berpengaruh pada performanya. Permainannya dinilai kurang berani. “Di satu sisi saya baru saja mendapat cedera berat dan tim ya hanya sebisanya menanggungnya,” tuturnya.

Padahal waktu itu tiga tim menginginkan jasanya seperti, Arema, Persija Jakarta, PSMS Medan dan Produta (saat berhomebase di Jogja, Red).
Tak kunjung menemukan permainan terbaik, Harmin merasa gagal dan frustrasi. Dia sempat dipertahankan manajemen PSIM selama dua musim, hingga akhirnya dilepas ke Persiba Bantul pada 2013.

Lagi dan lagi, nasib baik tak berpihak pada Harmin. Saat mencoba peruntungan di Persiba Bantul, dia kembali gagal lantaran saat itu terjadi dualisme liga (IPL). Sehingga, dia memutuskan untuk melanjutkan kuliah dan berhenti sebagai pesepak bola profesional.

Nah, setelah lulus, Harmin banting stir menjadi seorang wartawan. Pekerjaan sebagai jurnalis itu dipilih bukan tanpa alasan. Sebab, dia adalah lulusan ilmu komunikasi Universitas Atmajaya Jogjakarta. “Saya kuliah jurnalistik. Setelah lulus ada tawaran lalu saya ambil kerja menjadi wartawan,” ujarnya.

Sudah lima tahun mantan pemain yang identik dengan nomor punggung 19 itu menjadi seorang wartawan. Diakui Harmin, banyak hal yang dia dapatkan dari pekerjaannya ini. Selain menulis tentang sepak bola dia juga senang dapat bertemu banyak orang baru di sekitarnya. “Mencintai sepak bola dari sisi yang berbeda,” paparnya.

Sebagai wartawan, tak menyurutkan semangatnya mencintai sepak bola. Beruntung di organisasi wartawan, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ada Pekan Olahraga Wartawan mulai tingkat daerah hingga nasional. Nah di Porwanas, dia menjadi bagian penting tim sepak bola wartawan DIJ. (riz)