RADAR JOGJA – Nama aslinya Suyamdi. Tapi dia akrab disapa Mbah Kabul. Bagi penonton sepak bola di di stadion-stadion di DIJ, namanya begitu lekat. Meskipun dia hanya pedagang asongan. Arem-arem, tahu, kacang rebus dan minuman.

Bagi kita yang sering menyaksikan pertandingan sepak bola di DIJ, nama Mbah Kabul tentu akrab di telinga. Sosoknya begitu ramah dan gemar bercanda.

“Ayo nyanyi… nonton wis meneng, ra tuku jajan sisan,” begitu kalimat yang kerap keluar dari mulut Mbah Kabul. Ketika dia mendapati stadion dalam kondisi sepi.

“Ayo rayahan… njupuk dewe-dewe… tapi bar iku mbayar,” celotehnya saat menawarkan dagangannya.

Sabtu (14/12) dini hari, sosok berkacamata tersebut dipanggil Tuhan Yang Maha Esa di Rumah Sakit Harjolukito.

Mbah Kabul mengalami kecelakaan. Sepulangnya dari berdagang di sebuah pagelaran wayang di Berbah, Sleman. Mbah Kabul yang sedang mengendarai sepeda motor tertabrak oleh mobil pikap.

Karangan bunga dari kelompok suporter di Daerah Istimewa Jogjakarta. (HERY KURNIAWAN/RADAR JOGJA)

Kondisi rumah sederhana Mbah Kabul yang berada di sekitar Betokan, Tirtoadi, Mlati, Sleman dipadati pelayat dari pagi hingga sore. Beberapa bahkan tokoh penting sepak bola DIJ.

Seperti Yohanes Yuniantara dan Johan Arga. Nampak juga karangan bunga dari sejumlah pihak, termasuk kelompok suporter.

Menurut cerita putri Mbah Kabul, Sri Lestari, Mbah Kabul mengalami patah di bagian kaki kanannya. “Sebenarnya bapak sempat ngabari kami, tapi setelah dirawat sebentar, terus nggak ada,” cerita Sri kepada Radar Jogja.

Menurut penuturan Sri, Mbah Kabul merupakan sosok pekerja keras. Bahkan di usia senjanya masih ingin berdagang.

“Ya kami anak-anaknya ini sudah melarang, tapi bapak tetap mau dagang,” jelasnya.

Sri menceritakan, pekerjaan berdagang asongan yang dilakukan Mbah Kabul itu sudah dijalani sejak puluhan tahun yang lalu. Hingga saat ini, uang hasil berjualan tersebut yang terus menopang hidup keluarga besar Mbah Kabul.

“Kalau di pertandingan sepak bola itu, bapak bisa bawa pulang Rp 800 ribu,” jelas Sri.

Sri merasa sangat kehilangan dengan meninggalnya sang ayah. Apalagi menurutnya kepergian sang ayah sangat mendadak. Namun, ia mencoba tabah dan mendoakan yang terbaik untuk bapaknya.

Salah satu cucu Mbah Kabul, Sugeng Purwanta Putra menyatakan kakeknya adalah seorang yang baik. Menurutnya, Mbah Kabul jarang sekali marah.

“Mbah sering sekali ngasih saya uang jajan,” ujarnya.

Sementara itu eks pemain PSIM Jogja dan PSS Sleman, Johan Arga memiliki kenangan tersendiri dengan Mbah Kabul. Beberapa waktu lalu pernah ngobrol dan wawancara di rumahnya.

”Dia sosok yang akrab dan selalu ramah kepada siapa saja,” ujarnya. (cr12/riz)