Indonesia terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Kabar itu langsung melempar saya ke kenangan Piala Dunia Junior 1979 di Jepang. Saya terkenang pertemuan dengan Diego Maradona, pemain yang pada kemudian hari menjadi bintang sepak bola dunia.

Di Piala Dunia Junior 1979, Indonesia ikut serta. Saya pun menjadi bagian dari tim nasional (timnas) Indonesia yang dikirim ke Jepang waktu itu. Indonesia sebenarnya tidak lolos ke Piala Dunia Junior 1979. Posisi kami saat itu (kalau saya tidak salah mengingat) menggantikan Korea Utara yang mengundurkan diri.

Di Jepang, kami berada satu grup dengan Argentina. Kesebelasan yang keluar sebagai juara di akhir turnamen. Selain Argentina, Indonesia tergabung bersama Yugoslavia dan Polandia. Pertemuan dengan tiga kesebelasan itu tentu tidak akan saya lupakan.

Tiga pertandingan tersebut selalu basah dalam ingatan saya. Sebab, itulah pertandingan saya di Piala Dunia. Meski statusnya Piala Dunia Junior, titelnya tetap saja Piala Dunia.

Di antara tiga pertandingan tersebut, tentu saja laga melawan Argentina yang begitu lekat. Maradona-lah yang membuat saya selalu terseret ke kenangan Piala Dunia Junior 1979.

Coach Subangkit saat melatih Sriwijaya FC. (FAJAR.ID)

Sebab, sepulang dari Piala Dunia Junior tersebut, namanya terus melambung. Permainannya dielu-elukan banyak orang di dunia. Maradona juga yang kemudian membawa Argentina juara Piala Dunia 1986.

Setiap kali melihat Maradona bermain, saya sering cerita ke teman atau kolega bahwa dulu saya pernah bermain satu lapangan dengan dia. Bahkan, kami terlibat duel di lapangan tengah. Saat Piala Dunia Junior 1979, saya memang berposisi gelandang. Saya berduet dengan Mundari Karya.

Maradona saat melawan pemain Indonesia di Piala Dunia 1979. (TOMIKOSHY PHOTOGRAPHY)

Nah, Maradona juga berposisi gelandang. Jadilah saya sering bertarung dengan Maradona di tengah lapangan. Waktu itu skill Maradona sudah terlihat sangat menonjol. Dia begitu ulet ketika ’’memegang’’ bola.

Sulit sekali menghentikan pergerakannya. Maradona begitu cepat dan lincah. Pokoke angel temen dicekel arek iku (yang jelas sulit sekali memegang anak itu, Maradona).

Oh ya, aku isek nyimpen foto pas main bareng Maradona. Pas duel karo Maradona. (Oh ya, saya masih menyimpan foto ketika main dengan Maradona. Pas duel dengan Maradona).

Sayangnya, posisi saya saat ini adalah mempersiapkan tim Persiku Kudus melawan Persekat Tegal di final Liga 3 regional Jawa Tengah sore ini (kemarin sore). Kalau longgar, saya bisa membagikan foto tersebut.

Kembali ke pertandingan lawan Argentina, saat itu kami pun harus mengakui kemenangan Argentina. Saat bertemu dua kesebelasan lainnya, Polandia dan Yugoslavia, kami juga kalah. Alhasil, kami menghuni juru kunci grup di babak penyisihan.

Meski kami selalu kalah, secara pribadi saya tetap merasa bangga karena pernah main di Piala Dunia Junior. Ada begitu banyak pelajaran yang saya dapatkan dari keikutsertaan Indonesia waktu itu. Tentu saya berharap, saat Indonesia tampil di Piala Dunia U-20 pada 2021, capaiannya jauh melebihi apa yang dulu saya dan teman-teman saya dapatkan.

Disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Miftakhul F.S.